Definisi BIOPSIKOLOGI :
  • Biopsikologi adalah ilmu yang mempelajari mekanisme perilaku dan pengalaman dari sisi fisiologi, evolusi, serta perkembangan (Kalat,2007:2)
  • Biopsikologi adalah studi ilmiah tentang biologi perilaku (Dewsburry 1991 dalam Pinel, 2009:4)
  • BIOPSIKOLOGI OLAHRAGA: ilmu yang mempelajari mekanisme perilaku dalam konteks OLAHRAGA
Tidak hanya pada level perilaku, Biopsikologi olahraga juga berusaha memahami proses-proses biologis (fisiologi, evolusi, perkembangan perilaku) yang terjadi di balik perilaku olahraga.
Asumsi dasar:
terdapat keterkaitan antara perilaku, pikiran dan tubuh. Ilmuwan Biopsikologi menolak paham dualisme, yaitu pikiran dan tubuh terpisah. Implikasinya, apa yang dipikirkan / dirasakan akan mempengaruhi tubuh, dan sebaliknya. Dari semua sistem, yang berperan bagi manusia untuk memahami dunia dan kondisi internal tubuh adalah sistem saraf. Dengan demikian, sisitem saraf merupakan “operator komunikasi” antara organ-organ, situasi ekternal, dengan pikiran (otak). Beberapa ahli bahkan menyatakan sistem saraf menghasilkan dan mengendalikan perilaku (Doupe & Heisenberg, 2000; Grilner & Dickinson, 2002 dalam Pinel, 2009:5)
Perilaku dalam biopsikologi dijelaskan dalam 4 katagori:
  1. Penjelasan fisiologis: mengaitkan perilaku dengan aktivitas otak dan organ tubuh terkait sistem tubuh
  2. penjelasan ontogeni: “ontos” = asal muasal,  menggambarkan perkembangan sebuah struktur ataupun perilaku terkait perkembangan
  3. Penjelasan evolusi: penjelasan berdasarkan rekontruksi “sejarah” suatu struktur atau perilaku
  4. Penjelasan fungsional: menjabarkan alasan mengapa sebuah struktur atau perilaku berevolusi
Perilaku Manusia: NATURE vs NURTURE
NATURE : bawaan sejak lahir / genetik. artinya, asal muasal perilaku merupakan bawaan sejak lahir. Antaralain
  • genetis: bila Gen memprodusir kondisi biologis yang memunculkan kecenderungan perilaku tertentu. misalnya  orang tua yg memiliki gangguan kejiwaan mewariskan gen tersebut pada anak-anaknya.
  • kondisi biologis sseorang membuat lingkungan memperlakukan individu sedemikian rupa sehingga secara tidak langsung mempengaruhi perilaku seseorang. Cth: “pirang lebih seksi”m istilah tersebut membuat wanita-wanita berambut pirang berusaha tampil menarik, agresif kepada lawan jenis, hingga konsumerisme.
  • Multiplier effect (efek pengali) | ketika bawaan genetis didukung oleh lingkungan  shg memperkuat kecenderungan akan perilaku. Cth: anak yg lahir dg tinggi diatas normal, lingkungan mendukung ia melakukan olahraga basket, sehingga anak menjadi atlit basket.
NURTURE : perilaku manusia karena pengaruh lingkungan à pengalaman,
  • Pewarisan sifat biologis dapat dirubah melalui pengaturan kondisi lingkungan.Cth: pengaturan gizi pada ibu hamil
  • Perilaku muncul karena proses belajar yang dikondisikan oleh lingkungan.•Cth: perilaku yang diulang-ulang menghasilkan suatu pola kebiasaan
Perkembangan perilaku manusia adalah interaksi antara faktor genetik dan pengalaman
Penelitian Selective Breeding oleh Tyron (1934)
Dua kelompok tikus dilatih menyusuri labirin. Kemudian dikelompokkan mjd “tikus pintar” & “tikus bodoh”. Tikus betina dan jantan dikawinkan dalam golongannya masing-masing.. Tikus-tikus ini dikembangbiakkan selama 21 generasi: generasi ke-8 “tikus pintar” lebih sedikit melakukan kesalahan daripada generasi ke-8 “tikus bodoh”. kemudian Tyron melakukan Cross fostering procedure:  Anak-anak “tikus bodoh” diasuh orangtua “tikus pintar”. Anak-anak “tikus bodoh” melakukan lebih banyak kesalahan meskipun dibesarkan orang tua “tikus pintar”, dan sebaliknya.

Cooper & Zubek (1958):
Generasi “tikus bodoh” dan “tikus pintar” diletakkan di 1) lingkungan miskin stimulasi dan ; 2) lingkungan kaya stimulasi.Hasilnya, tikus dengan lingkungan yang kaya stimulasi melakukan lebih sedikit kesalahan dan memiliki otak yang lebih besar. kemudian Perbandingan kesalahan menyusuri labirin  antara “tikus bodoh” dan “tikus pintar” tidak banyak berbeda.
sumber
Pinel, J. 2009. Biopsikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kalat, J.W., 2009. Biopsikologi 1. Jakarta: Salemba Humanika
Oleh: Kur | 17/02/2010

Antara Pesilat Militer dan Sipil

(Artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan mas O’ong Maryono, yang dimana 10 tahun alu aku masih membaca bukunya, namun sekarang punya kesempatan berinteraksi dengannya)

Permasalahannya adalah bukan seorang pesilat itu berasal dari TNI, POLRI, atau elemen lain yang berbau militer. Bukan berarti seorang Pesilat dari POLRI atau TNI pasti akan menang dalam sebuah kejuaraan, dan demikian sebaliknya, bukan berarti seorang pesilat dari kalangan sipli sulit untuk berhasil.

Kita sudah mengenal Roni Syaifullah (Kelas G Putra), yang jelas dia dari kalangan sipil. Atau Pengky Simbar, Tuti Winarni, Nyoman Suparniti, Lutfan Budi Santoso, yang semuanya adalah orang sipil. Kemenangan I Komang Wahyu yang seorang anggota POLRI, terlepas dari permainan serta pelatihan yang telah dia jalani selama ini, bukan menjdi alasan untuk menjadikan kalangan militer sebagai satu-satunya lahan untuk mencari bibit-bibit pesilat. Terlebih, Kemenangan itu mungkin menjadi sorotan khusus karena masalah “situasi-kondisi” yang secara tepat menempatkan ia sebagai pahlawan Ketika semua pesilat tanding gagal dan Komang Wahyu menjadi yang satu-satunya berhasil, kemenangannya tiba-tiba menjadi suatu perhatian (Semisal sudah ada pesilat tanding lain yang juara, mungkin ceritanya akan lain). Dan latar belakangnya sebagai anggota POLRI pun menjadi sorotan, sehingga muncul pernyataan untuk “merekrut pesilat dari kalangan militer karena peluang kemenangan mereka dianggap lebih besar”. Bisa ya bisa tidak, tetapi itu bukan satu-satunya cara.

Permasalahannya hanyalah masalah apakah ia MEMILIKI KEBIASAAN YANG TEPAT, BERADA DI LINGKUNGAN YANG TEPAT, BERSAMA ORANG-ORANG YANG TEPAT.

Pertaa-tama, KEBIASAAN yang TEPAT. Ada pepatah Kebiasaan membentuk karakter seseorang.
Kebiasaan membentuk Karakter, Karakter memebentuk Takdir.
Takdir ini — barangkali, termasuk diantaranya adalah menang atau kalah, juara atau tidak juara.
Dalam kondisi milter, semuanya harus berada dalam satu sistem terkomando yang tertib dan penuh disiplin. Dalam militer ada sejumlah aturan baku yang tegas. Itu termasuk ke hal-hal yang remeh temeh seperti bagaimana mereka harus mematuhi jadwal, menata baju di lemari, tempat tidur yang harus bersih, hingga ke cara makan dan minum. Semuanya tertata rapi dan teratur. Ini dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari, sebagaimana seorang militer diwajibkan tetap berseragam ketika keluar dari markas. Dan, masalah disiplin semacam ini sebenarnya dapat dilakukan dan dijalani seorang sipil, siapapun dia, bagaimanapun latar belakangnya. Displin ketika makan dan tidur, berlatih dan beristirahat, dan tentu saja, memfokuskan pikiran di saat yang tepat. Siapapun bisa melakukannya — tidak mesti harus berpendidikan militer dahulu.

Tetapi, ketika seorang pesilat keluar dari lingkunagn markas untuk berlatih pencak silat — yang diperlukan BUKAN HANYA DISIPLIN — yang mereka perlukan juga adalah PELATIH YANG TEPAT, LATIHAN YANG BENAR, dan KONDISI YANG TEPAT. Karena Pencak Silat adalah sebuah olahraga yang rumit– bukan hanya diperlukan kekuatan dan kecepatan, namun juga teknik dan strategi. Penilaian berdasar sudut pandang juri membuatnya semakin rumit — Pelatih harus bisa bepikir dari sudut pandang juri. Karena sebuah serangan yang masuk, paling banyak hanya akan dinilai oleh 3 juri (berdasarkan sudut pandang), kecuali untuk Jatuhan. Ini membuat seorang pesilat tidak bisa (kalau boleh dibilang: tidak mungkin) berjuang sendirian. Tidak mungkin seorang pesilat memikirkan semuanya sekaligus: saya harus menggunakan teknik apa, harus bermain di wilayah gelanggang yang mana, juri mana yang harus diberi nilai, dan berapa selisih nilai saat ini — semua itu sangat rumit, dan tidak bisa dipikirkan sendirian. Barangkali karena inilah, secara tidak sadar seorang pesilat SANGAT MENGHORMATI PELATIHNYA. Hingga bisa saja sampai suatu tahap tertentu ia dapat sangat fanatik terhadap satu-dua pelatih. (implikasinya bervariasi… misalnya, ketika ada “orang luar” yang melangkahi peran pelatihnya, dapat memicu rasa amarah yang ditekan dalam diri pesilat — misalnya apabila antara pelatih dan pengurus tidak sejalan, pesilatlah yang akan menjadi korban)

Jadi, seorang anggota militer akan memiliki basic fisik dan mental yang baik untuk bertanding, namun itu saja tidak cukup. Ia harus dilatih oleh PELATIH YANG TEPAT. Benar-benar seorang pelatih pencak silat yang kompeten, mumpuni, mengetahui prinsip-prinsip olahraga silat dan memahami peraturan pertandingan secara mendetail (sehingga tahu cara mengatur strategi). Tanpa pelatih yang tepat, sebagus apapun fisik-mentalnya, tidak akan berhasil. Dan yang sebaliknya juga bisa berlaku, orang sipil yang berlatih pencak silat dengan pelatih yang tepat, besar kemungkinan mereka untuk berhasil. Misalnya seperti Roni, Tuti Winarni, Lutfan, Nyoman Suparniti, mereka dilatih orang-orang yang tepat (terlepas dari kegagalan di SEA GAMES lalu, tidak bisa dipungkiri nama-nama tersebut berkali-kali menyabet World Champion dan Juara SEA GAMES). Jadi, tidak heran bila ada daerah yang dominan dan menonjol prestasi pencak silatnya, tengok saja siapa pelatihnya ?

kedua, LATIHAN yang BENAR. Pelatih yang tepat tentu saja tidak akan sembarangan melatih, ada prinsip-prinsip yang harus diikuti. Dan seringkali ini tidak berhubungan dengan latar belakang si pelatih apakah harus orang olahraga (S.Or, M.Or dsb) tetapi pada INTENSITAS dan INTEGRITAS seorang pelatih untuk memperoleh pengetahuan, memantau perkembangan pensak silat yang up-to-date dan bagaimana mereka pengaplikasikan hal itu pada anak didiknya. Terkadang yang terakhir ini penting: masalah perhatian pada anak didik. Kerumitan olahraga pencak silat membuat seorang pesilat harus berada dalam kondisi sangat rileks sebelum bertanding; untuk mencapai kondisi itu, ia harus merasa aman baik secara fisik dan psikis; usaha para pelatih agar anak didiknya merasa aman adalah memperlakukan mereka secara bermartabat dan penuh kasih sayang secara adil; sehingga para atlit ini tidak akan ketakutan karena berpikir “bagaimana kalau saya kalah?” atau memikirkan “bagaimana posisi saya di tim, saya dimainkan atau tidak?”, atau hal-hal lain selain bertanding. Ini adalah faktor keterikatan emosiaonal yang sering terlupakan (seringkali bukan pelatih yang melupakan ini tetapi orang-orang lain misalnya pengurus IPSI). Rasa aman, enjoy, rasa nyaman bertanding, juga berpengaruh pada tingkat konsentrasi. Ini belaku untuk semua pesilat, entah dia dari kalangan sipil atau bukan.

Ketiga, KONDISI YANG TEPAT. Bayangkan seandainya Komang Wahyu memiliki seorang komandan yang kaku, yang tidak mengijinkan anak buahnya berlkatih? apakah ia bisa menjadi juara seperti sekarang ini? Seorang militer harus berada di kompi yang tepat, di batalion/resimen yang tepat, yang bisa mendukung karier pencak silatnya. Dan ini tidak berlaku di semua tempat. Seorang anggota militer terikat pada tugas dan garis komando; dan prosedur serta kedidiplinan mereka sangat tegas. Barangkali, hanya kebesaran hati seorang komandan yang bisa memberikan seorang anggota POLRI / TNI untuk berlatih di lingkunag yang lain, yang dimana di tempat itu atribut militernya harus dilepas. Seorang pesilat, harus disiplin istirahat dan berlatih, sulit bila ia tetap harus bertugas di sela-sela latihannya. ia tidak akan sempat beristirahat cukup atau berdiskusi mengenai perkembangan lawan-lawannya bersama pelatih. Dan ini juga berlaku bagi pesilat sipil; bila mereka berada di sutuasi yang tepat, misalnya didukung orang tua, universitas, lembaga tempat bekerja, maka kemungkinan langkahnya mulus dalam dunia pencak silat juga semakin besar. Karena itu penting bagi seorang pesilat untuk mempertimbangkan akan sekolah dimana; bertugas dimana, bekerja dimana dsb; karena itu menentukan kesempatannya berprestasi.

Jadi… apakah itu seorang anggota militer atau tidak, sama saja. Selama memiliki komitmen, integritas, disiplin, siapapun dapat berlatih dan menjadi juara. Tetapi tentu saja… semua juara selalu berhutang pada pelatih, orang-orang yang tepat dan kondisi-kondisi yang tepat.

Sumber:
Gladwell, Malcolm. 2008. Outliers. Gramedia.
____, 2009, Pecak Silat hanya meraih 2 medali emas. http://219.83.122.194/web/index.php?option=com_content&view=article&id=5787:pencak-silat-hanya-raih-2-medali-emas-sea-games-xxv-laos&catid=46:olahraga&Itemid=113

(Terimaksih mas O’ong, hope this can satisfy you, please give feedback, thank you)

Olahraga tidak membangun karakter, tetapi mengungkapkannya

Olahraga menajamkan otak manusia untuk terFOKUS, seperti sinar matahari yang membakar

Menekan dan mendorong manusia untuk mencoba dan berusaha hingga batas tertinggi

lebih cepat dari yang lain, lebih kuat dari yang lain,

melewati batas-batas kemampuan diri sendiri,

membuat manusia belajar bagaimana beraksi di bawah tekanan,

tetap tenang meskipun semua mata tertuju padamu,

dan tetap bersemangat meskipun semua meremehkanmu

Olahraga mengajarkan bagaimana bersaing dalam cara-cara yang adil

bagaimana bekerja sama,

menyatukan visi mencapai tujuan,

mengenal diri sendiri dan orang lain

juga merayakan keberhasilan, sedih dan susah bersama orang-orang itu…

memberikan pengalaman ekstase luar biasa yang akan kau kenang seumur hidup…

.. yang di kemudian hari dapat menginspirasi orang lain.

“sport not bulld character, everybody already has it;
sport reveal it”

Oleh: Kur | 18/12/2009

Kaidah 10.000 Jam Latihan

dalam buku Outliers, Malcolm Gladwell membahas mengenai para jenius yang kemampuannya berada di atas rata-rata, mereka yang secara statistik berada di “ekor” kurva normal (ujung kurva normal–sebelah kanan), jumlah orang-orang ini sangat sedikit, dan juga biasanya sikap, karakter, latar belakang keluarga dan pendidikan mereka juga berbeda, dan tentu saja, ciri para outliers ini adalah kemampuan mereka yang unggul melebihi rata-rata.

dalam buku itu Malcolm Galdwell menyebut tentang “Kaidah 10.000 jam”, yaitu seseorang baru benar-benar mendapatkan kemampuan unggul dalm atu bidang bila ia telah melewati latihan minimal selama 10.000 jam. MINIMAL SELAMA 10.000 JAM. Beatles sebelum terkenal, mereka mengamen selama 17 jam nonstop di jalanan Paris. Seorang pemain piano terkenal (kulupa namanya) mengawali bangun tidurnya dengan berlatih piano beberapa jam. Demikian juga olahragawan – olahragawan lain… Valentino Rossi telah melewatkan ribuan jam di sirkuit sejak usia dini, Jordan mulai berlatih lebih awal dan pulang lebih larut dari teman-temannya setim, dan kurasa demikian juga dengan Federer, Tiger Woods, Jet Lee, dan juga Rony Saifullah, (I guess…)

aku telah bermain statistik dengan angka 10.000 ini;
10.000 jam sama dengan 24 jam latihan selama 416,67 hari atau 1 tahun 8 bulan 1 hari ;
sama dengan 10 jam latihan selama 1000 hari atau 2 tahun 8 bulan 23 hari;
sama dengan 5 jam latihan selama 2000 hari atau 5 tahun 5 bulan 1 hari;
sama dengan 3 jam latihan selama 3333,34 hari atau 9 tahun 1 bulan 13 bulan;
sama dengan 2 jam latihan selama 5000 hari atau 13 tahun 8 bulani;
itu adalah durasi untuk latihan inti, belum termasuk pemanasan dsb
dan katakanlah, bila ingin menguasai dua macam teknik (misalnya tendangan depan dan sabit) maka kalikan 10.000 jam itu dengan 2. itu adalah waktu minimal yang dibutuhkan untuk “menguasai” kedua teknik tersebut.

Jadi, menurutku memang para juara pencak silat bukan orang yang menguasai banyak teknik, mereka fokus pada beberapa teknik andalan saja dan mengasahnya.

Dan mendapatkan angka 10.000 jam latihan saja tidak cukup… ,masih ada 10.000 jam kali sekian yang dibutuhkan untuk menerapkan teknik yang dipelajari ke situasi sebenarnya (misalnya dalam sparring atau bertanding untuk mendapat jam terbang).

Dan ketika kita mencapai 10.000 jam, bisa saja lawan kita sudah mencapai 20.000, 30.000, 50.000 jam atau bahkan jauh lebih banyak dari itu.

Pertanyaannya, beranikah kita menantang diri kita lebih keras lagi?

jangan takut pada orang yang menguasai bermacam-macam jurus, takutilah orang yang hanya menguasai satu jurus”

–Kyotaro Goh —
(Kenji chapter 2)

Oleh: Kur | 15/12/2009

The Game Theory of Pencak Silat (1)

Bagimana kita menggambarkan seorang Juara pencak silat? Seandainya bisa, bagaimana kita membuat sebuah parameter mengenai seorang pesilat yang bisa juara?Atau gampangnya, bagaimana cara kita mengukur peluang kemenangan seorang pesilat?

Ini hal yang ckup sulit karena dalam olahraga pencak silat terdapat banyak variabel yang masing-masing harus dianalisa secara statistik; bila seorang pelari sprint dapat diukur peluang kemenangannya dengan memperhatikan panjang tungkai, tingkat konsentrasi otot putih di ototnya, postur tubuh, kekuatan otot tungkai, power (dikukur dengan tes vertical jump), kecepatan otot tungkai dsb, … maka bagaimana dalam olahraga pencak silat?

Dalam olahaga pencak silat, yang saya ketahui ada 5 faktor: yaitu 1)fisik, 2)teknik, 3)taktik dan sttrategi, serta 4)mental atau etika. Hubungan antara keempatnya lebih tepat bukan seperti hubungan jaring-jaring, tetapi juga piramida yang sifatnya hierarkis. Contohnya, untuk memiliki sikap mental yang bagus, misalnya saja kuat mengahadapi tekanan di pertandingan, seorang pesilat harus memiliki asupan oksigen yang cukup ke otaknya. Artinya, kondisi badannya harus cukup bugar, Vo2mak dan kemampuan jantung harus cukup untuk mensirkulasi darah yang cukup oksigen ke seluruh bagian tubuh, yang artinya… kalau otak cukup oksigen maka cukup enteng buat mikir. artinya, supaya mental bagus maka kebugaran fisisk harus bagus…. dan demikian juga untuk faktor teknik. Memang belum diukur secara ilmiah, tetapi pasti ada hubungan natara kekuatan otot tungkai, perut, kelincahan, kekuatan otot dengan power atau daya ledak tendangan dan pukulan… jangan lupa lho, serangan kaki/tangan yang dinilai oleh juri adalah yang “terlihat, tidak terhalang, jelas bersuara diikuti kuda-kuda yang mantap”, tanpa daya ledak yang bagus maka bisa saja tendangan atau pukulan itu masuk ke sasaran tapi tidak dinilai. untuk mekakukan teknik sedemikian juga… kembali ke pasal satu, butuh kebugaran fisik yang baik.   Dan kalau kita mau kembali berpikir ke faktor mental… seorang pesilat yang kebugaran fisik dan tekniknya jelek tidak akan mampu melakukan berbagai macam strategi… strategi adalah perpaduan dari peraturan pertandingan,  teknik dan juga fisik… kalau tidak menguasai sebuah teknik dengan benar, maka sulit untuk memvariasikan teknik tersebut ke dalam strategi untuk mencuri nilai dari lawan… ditambah fisik yang buruk, maka akan lebih sulit lagi… otak juga nggak konek, teknik nggak mateng… bagaimana bisa menang kalau begitu?

ohya, kita tadi juga membahas tentang etika… ini juga penting. Kita harus ingat bahwa pencak silat berangkat dari budaya tradisi luhur nenek moyang.. kalau kita mau melihat bagaimana profil pendekar-pendekar jaman dahulu, kita akan mendapatkan sejumlah sifat dan karakter baik; bersikap ksatria, pemberani, sopan santun terhadap orang yang lebih tua, adil, rendah hati, dsb… nah kalau sekarang kan jaman sudah berbeda… pencak silat sudah menjadi olahraga dengan sejumlah peraturan di dalamnya.  Tetapis esungguhnya sifat-sifat, karakter -karakter mengenai sikap ksatria itu masih berlaku… coba saja lihat peraturan pertandingan pencak silat; seorang pesilat ketika masuk gelanggang harus “kulonuwun” dulu ke yang memimpin pertandingan (Wasit), lalu ke “sesepuh” yang mengawasi jalannya pertandingan (Ketua Pertandingan), pertandingan diawali jabat tangan… lalu alih-alih menyerang dengan brutal, pesilat harus mengawali dengan pasang, langkah, baru serang bela… menyerang ke kepala dilarang (karena tradisi orang timur kepala adalah wilayah pribadi yang tidak boleh disentuh sembarangan), menyerang sendi, kemaluan, melakukan penghinaan, menjambak, mencakar, menggigit dsb… berhenti menyerang ketika lawan berada di posisi bawah (setelah serang bawah)… itu semua sebenarnya adalah contoh betapa pencak silat sangat mengharagai etika. Jadi, secara alami para aparat pertandingan lebih menyukai seorang pesilat yang beretika dariapa yang tidak.

bagaimana… setujukan anda dengan pendapat saya?

please comment…!!


Ada satu trik sederhana yang boleh diaplikasikan ke teman-temanku terutama yang masih kerajingan adrenalin bertanding pencak silat, atau olahraga lainnya;

1. Secara sadar, niatkan sepenuh hati untuk fokus ke permainan. Ini bisa dimulai ketika kita mulai berdoa sebelum melakukan peregangan dan senam. Sebelum berdoa, niatkan bahwa pikiran dan kondisi mental anda “siap” atau “ON” setelah selesai berdoa.

2. Lakukan stretching/peregangan secara perlahan-lahan, pastikan semua otot terulur dengan baik. Dan pastikan gerakan senam yang anda lakukan benar-benar maksimal menaikkan denyut nadi di kisaran main (masuk zona latihan)

3. Untuk mengusir rasa cemas/grogi/takut, saar stretching dan senam ulang-ulang saja frase kata berikut ini: “Fokus-rileks, fokus rileks, fokus rileks, fokus rileks,” atau “santai-kuat” atau cukup “fokus-fokus-fokus..” atau kata pendek lain yang anda inginkan.
beberapa atlit mungkin merasa nyaman dengan mengucap doa secara pendek atau mengucapkan dzikir. Sama saja, asalkan itu:
a. pendek dan mudah diulang-ulang
b. tidak mengandung kata negatif misalnya “tidak” atau “jangan” atau “bukan”, dsb
c. anda tidak harus memepercayainya, yang perlu dilakukan cuma mengulang-ulangnya dalam hati

4. Ketika sudah berada di pojok grlanggang, berdoalah sekali lagi. Saat itu niatkan dan fokuskan bahwa setelah selesai berdoa, anda sudah berada dalam keadaan “SIAP MAIN”. Saat itu, lupakan menang kalah, yang ada di kepala cukup “main”.

Permainan pencak silat sangat fleksibel, jadi jangan kaku dengan permainan atau strategi yang sudah direncanakan. Kukira, sebagian besar cabang olahraga lain pun sama seperti itu. Selama kondisi pikiran tetap rileks, kita bisa sangat fleksibel berubah pola main satu ke pola main yang lain, menyesuaikan dengan perubahan permainan lawan, perubahan situasi di arena, semuanya dapat kita lekukan dengan dengan mudah tanpa harus merasa panik sehingga performance tinggi tetap bisa diperoleh. Ujung-ujungnya, tentu saja prestasi maksimal !

have a nice trying !

 

N.B: Trik psikologi ini tidak menjamin 100% anda meraih kemenangan. kemenangan ditentukan banyak faktor al fisik, teknik, taktik, mental, etika. Yang jelas kalau mau bertanding ya tetap harus ada persiapan !!!

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil  pengantin  berhenti di depan flat kami yang cuma berkamar satu.  Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari  mobil. Jadi  kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan  malu-malu. Aku adalah  seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah  kejadian 10 tahun yang lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti  secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak,  saya terjun kedunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak  uang.  Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara  kami  pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap  pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan  spai di rumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh
perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dewi hadir dalam kehidupanku.
Waktu itu adalah hari cerah, aku berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya
ini adalah apartement yang kubelikan untuknya.

Dewi berkata: “Kamu dalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.” Kata2nya tiba2 mengingatkanku pada istriku, ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu,begitu sukses,akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.”
berpikir tentang  itu, aku menjadi ragu2, aku tahu kalau aku telah
menghianati istriku.  Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepas tangan Dewi dan  berkata,

“kamu harus pergi membeli beberapa perabot,  OK? Aku ada  sedikit urusan di kantor.” Kelihatan ia jadi tidak  senang karena aku  telah berjanji menemaninya.  Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin  jelas  dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.  Bagaimanapun, aku  merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada
istriku. Walau  bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat  terluka.  Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap  malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk  santai di depan TV,  makan malam akan segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2  atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dewi. Ini  adalah hiburan bagiku.

Suatu hari akubicara dalam canda, “seandainya kita  bercerai, apa yang akan kau lakukan?” Ia menatap  padaku selama  beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya  bahwa  perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari  bayangannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi  kenyataan jika  tahu bahwa aku serius.     Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dewi baru saja  keluar dari  ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan  mata penuh  simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala  sesuatu selama  berbicara dengannya. Ia kelihatan sedikit curiga, ia  berusaha  tersenyum pada bawahan2ku. Tapi aku membaca ada  kelukaan di matanya.

Sekali lagi,Dewi berkata padaku, “He Ning, ceraikan  ia, OK?, lalu  lita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku  tidak boleh  ragu2 lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, kupegang tangannya,

” Ada sesuatu yang harus kukatakan”
Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada
luka dimatanya.  Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia harus  tahu kalo aku   trus berpikir “aku ingin bercerai”, ku ungkapkan  topik ini dengan  serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh  kata-kataku,  tapi ia bertanya secara lembut,

“kenapa?”.

Aku  menghindari  pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia  melemparkan  sumpit dan berteriak kepadaku

“Kamu bukan laki-laki”
Pada malam itu, kami saling membisu. Ia sedang  menangis. Aku tahu  kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan  perkawinan kami.  Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan  sebab hatiku  telah dibawa pergi oleh Dewi.   Dengan perasaan yang  amat bersalah, aku  menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil  dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya  sekilas dan  mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit  dalam hati.  Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang  menjadi seorang  yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa  mengembalikan apa yang  telah kuucapkan.    Akhirnya ia menanggis dengan keras didepanku,dimana  hal tersebut  tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku tangisannya  merupakan suatu  pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku  dalam beberapa  minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi.    Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui  klienku. Aku  melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku  segera ketiduran.  Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia  masih menulis. Aku  tertidur kembali. Ia menuliskan syarat2 dari  perceraiannya, ia tidak  menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan  waktu sebulan  sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup  bersama seperti biasanya.  Alasannya sangat sederhana, Anak kami akan segera  menyelesaikan  pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin  anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia  menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,

“He Ning, apakah  kamu masih ingat  bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari  pernikahan kita?”
Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan  indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan.

“Kamu membopongku  dilenganmu”,  katanya,

“jadi aku punya sebuah permintaan yaitu kamu  akan tetap  membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir  bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur  ke pintu.”   Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia  merindukan  beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan  berharap perkawinannya  diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahu Dewi  soal syarat2  perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir  itu tidak ada  gunanya.

“Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus  menghadapi  hasil dari perceraian ini” ia mencemooh.  Kata2nya membuatku merasa tidak enak.    Istriku dan aku  tidak  mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan  perceraian itu. Kami  saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku  membopongnya di hari  pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami  menepuk punggung  kami, “wah, papa  mmbopong mama, mesra sekali”
Kata2nya membuatku  merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku  berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia  memejamkan mata dan berkata dengan lembut, “Mari kita mulai hari ini,  jangan  memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa  sedikit  bimbang, aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi  menunggu  bus dan aku   pergi kantor.   Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia
merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di
bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya.
Pada hari ketiga, ia berbisik kepadaku “Kebun di luar  sedang dibongkar. Hati2 kalau kamu lewat sana .”
Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dewi menjadi samar.

Pada hari kelima dan  keenam,ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti dimana ia telah menyimpan baju2ku yang telah ia setrika,aku harus hati2 saat memasak dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”

Ia sedang mencoba pakaiannya,aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat “Semua pakaianku kebesaran”,

Aku tersenyum.  Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu  sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar kusentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat itu.

“Pa,sudah waktunya membopong mama keluar” Baginya, melihat paapnya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat.

Aku membalikkan wajah sebab aku takut akan berubah pikiran pada detik
terakhir. Aku menyangganya dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk di teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah pergi ke sekolah.

Ia berkata

“sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai tua”

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata

“antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra.”

Aku melompat turun dari mobil. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dewi membuka pintu. Aku berkata demikian,

“Maaf Dewi, aku tidak ingin bercerai. Aku serius”
Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku

“Kamu tidak demam”.
Kutepiskan tangannya dari dahiku.

“Maaf Dewi, Aku Cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosanku disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan tidak saling mencintai
lagi”.

“Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu.”

Dewi tiba2 tersadar. Ia memberikan tamparan keras  kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.    Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum dan menulis :

“Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”

diambil ari milis seperjuangan@yahoogroups.com (thanks a lot  to Kiky for posting this story)

Oleh: Kur | 25/11/2009

Jadi Menantunya Bill Gates…??

 

Ternyata dalam kehidupan nyata, apabila kita mau berpikir positif dan kreatif maka akan banyak peluang dan kesuksesan yang bisa kita raih, simak cerita berikut :
Ayah : Aku akan menikahkan kamu dengan gadis pilihanku.
Anak Laki-laki: “Ngga mau ah, aku akan pilih pasangan hidupku sendiri”
Ayah : “Tapi gadis pilihanku anaknya Bill Gates.”
Anak Laki-laki : “Kalau begitu…… .ok deh”

Kemudian sang ayah melakukan pendekatan kepada Bill Gates.
Ayah : “Saya mempunyai calon suami buat anak perempuan Anda.”
Bill Gates: “Tapi, anak perempuanku terlalu muda untuk menikah!”
Ayah : “Tapi anak muda ini adalah  vice-president dari Bank Dunia.”
Bill Gates: “Ah, kalau begitu…..ok deh”

Akhirnya sang ayah pergi menemui  presiden Bank Dunia.
Ayah : “Saya kenal dengan pemuda yang cocok sebagai vice-president Anda. ”
Presiden : “Tapi, saya telah memiliki banyak vice president, sudah tidak ada tempat lagi!”
Ayah : “Tapi, pemuda ini adalah menantunya Bill Gates.”
Presiden: “Ah, kalau begitu…ok deh”
Moral : Meskipun Anda tidak memiliki apapun, Anda bisa mendapatkan segalanya , Jika Anda memiliki sikap yang positif

source: milis trainersclub@yahoogroups.com

Kategori